BLOG.FISELLA®

Sabtu, 04 September 2021

Headphone VS Speaker Monitor, Mana yang Lebih Baik untuk Mixing Audio

 

Headphone VS Speaker Monitor, Mana yang Lebih Baik untuk Mixing Audio

Sepertinya pembahasan tentang mixing audio tidak akan habis dalam semalam. Contohnya perdebatan tentang headphone vs speaker monitor yang hingga saat ini sering menjadi pertanyaan, baik di forum audio engineer, maupun selama saya mengajar kursus mixing mastering di FISELLA. Ini adalah artikel singkat untuk memberikan gambaran benefit dari masing-masing device (speaker monitor dan headphone).

Jumat, 03 September 2021

Belajar Gitar Sendiri vs Kursus, Mana Yang Lebih Efektif?

Sekarang ini, gitar adalah salah satu alat musik yang banyak dipelajari orang-orang, namun cara orang-orang belajar berbeda. Ada yang belajar sendiri (atau disebut otodidak), ada yang belajar dengan mengikuti kursus. Namun, manakah yang lebih efektif? Nah, kali ini saya akan menjelaskan dari berbagai sudut pandang.

Belajar otodidak :

- Cari materi sendiri dan bisa langsung belajar materi yang diinginkan.

Anda pasti akan mencari sendiri di internet, seperti di Youtube dan lainnya. Dan anda hanya akan mencari materi yang anda butuhkan dan inginkan. Di satu sisi anda akan menghemat waktu, namun di sisi lain ,mungkin nanti ada ilmu yang terlewat. 

Semisalnya ketika belajar fingerstyle, anda akan langsung menonton video orang yang memainkan 1 aransemen lagu. Jadi jika ingin belajar lagu lain, anda akan cari aransemen lain karena tidak diajari cara mengaransemen lagu sendiri. 

- Tidak tahu kesalahan kita dimana.

Jika anda belajar gitar sendiri, anda tidak akan dapat masukan dari orang yang berpengalaman. Anda hanya belajar dari cara pandang kita sendiri. 

Semisal, anda bisa memetik gitar tapi cara memetiknya salah. Atau semisalnya, anda tahu istilah teori teori musik, tapi belum tentu nama istilah tersebut benar.

- Tidak tahu mana sumber yang valid. 

Di jaman sekarang, memperoleh informasi sangat mudah. Namun anda tidak tahu apakah informasi tersebut benar (valid) atau tidak.

Belajar di kursus :

- Materi pembelajaran sudah tersedia dan terstruktur.

Di kursus, materi pembelajaran sudah terstruktur dengan baik dan pengajarnya sudah mempunyai ilmu yang matang dan berpengalaman. Jadi ilmu yang diajarkan dari yang dasar sampai advanced dan tidak ada ilmu yang terlewat. Anda juga akan mempelajari lagu dari tingkat kesulitan yang berbeda beda.

- Mendapat masukan/ koreksi.

Di kursus, permainan gitar anda akan dinilai dan dievaluasi. Semisal cara petik anda dikoreksi, cara pembawaan lagu dikoreksi, cara posisi gitar anda dikoreksi, dan lainnya.

- Memperoleh wawasan yang luas.

Di kursus, tentunya anda akan mempunyai wawasan lebih luas seperti teori musik dan lainnya, dan anda lebih bisa dan mengerti cara bermain instrumen yang baik, cara membaca notasi yang baik, dan lainnya.

Kesimpulannya, kedua cara belajar tersebut baik, tergantung goals tiap orang. Jika anda hanya ingin menyalurkan hobi atau untuk have fun, tidak masalah jika otodidak, karena tujuan anda hanya ingin bisa main lagu favorit misalnya. Namun, jika anda ingin mendalami musik, alangkah lebih baik jika mengikuti kursus. Dan saya mempunyai rekomendasi tempat kursus yang baik, yaitu di https://www.fisella.com/ .

Sekian. Terimakasih telah membaca.

 Sumber gambar : https://www.pexels.com/photo/a-man-playing-a-guitar-7104397/

Kamis, 02 September 2021

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Barat Dalam Keroncong

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Keroncong Dalam Keroncong - Gita Seisoria - Blog Fisella

Keroncong merupakan salah satu jenis musik Indonesia yang telah lama eksis dan masih terus berkembang hingga saat ini. Mulai dari bentuk keroncong asli hingga keroncong-millenial yang digabungkan dengan musik – musik genre lainnya. Musik keroncong bermula dari campuran musik diatonis Barat dengan musik gamelan Jawa. Istilah keroncong sendiri diambil dari bunyi “... crong crong crong ... “ pada alat musik ukulele yang dimainkan rasquardo ( jenis teknik permainan ritme pada instrumen ritmis keroncong seperti cak dan cuk ). Perkembangan sejarah singkat keroncong diawali pada abad ke – 17, tepatnya pada tahun 1661 saat bangsa Portugis mulai tinggal daerah Kampung Tugu di Batavia yang hingga saat ini masih menjadi bagian sejarah nusantara. Bangsa portugis mempunyai sistem teknologi informasi yang canggih pada masanya untuk turut berkontribusi dalam pembentukan budaya Indonesia. Selain itu portugis juga mempengaruhi kesenian Indonesia, salah satunya yaitu musik.

Sehingga inilah yang menjadikan adanya perpaduan antara musik nusantara dengan musik barat salah satunya keberadaan instrumen biola dalam format musik keroncong. Pada umumnya biola memiliki fungsi mirip dengan instrumen flute. Mereka merupakan bagian dalam introduction musik keroncong dengan memainkan rangkaian nada pembuka sebuah karya musik keroncong yang disebut vorspiel/prospel/prelude yang tentunya akan dibahas lebih banyak di artikel selanjutnya ya... Teknik biola yang digunakan dalam musik keroncong diantaranya cengkok, gregel, embat, mbesut, acciacatura, trill. Berikut ini penjelasannya,

1. Teknik Cengkok

Teknik in merupakan teknik yang mirip dengan teknik gruppetto pada ilmu musik Barat. Gruppetto adalah salah satu bentuk ornamentasi ( tanda hias ) berupa lambang S yang digambarkan melintang.  Dengan cara memainkan nada setelah nada pokok dan memainkan nada sebelumnya pada notasi tertentu. Berikut ini contohmya,

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Keroncong Dalam Keroncong - Gita Seisoria - Blog Fisella







2. Teknik Gregel

Teknik ini mirip dengan teknik mordent pada ilmu musik Barat. Mordent adalah salah satu bentuk ornamentasi yang digambarkan seperti huruf M. Cara memainkannya yaitu menambahkan nada setelahnya atau sebelumnya pada nada pokok. Terdapat dua jenis mordent yaitu  upper dan lower mordent. Berikut ini contohnya,

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Keroncong Dalam Keroncong - Gita Seisoria - Blog Fisella







3.  Teknik Embat

Teknik ini mirip dengan teknik appogiatura pada ilmu musik Barat. Appogiatura merupakan bentuk ornamentasi yang dituliskan dalam notasi musik dengan ukuran yang lebih kecil atau setengah nada dari notasi pokok. Berikut ini contohnya,

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Keroncong Dalam Keroncong - Gita Seisoria - Blog Fisella




4. Teknik Mbesut

Teknik ini mirip dengan teknik Glissando pada ilmu musik Barat. Glissando merupakan teknik permainan dengan cara “ menggelincirkan “ satu nada ke nada lain yang berjarak jauh secara berjenjang baik jenjang diatonik maupun jenjang kromatik. Berikut ini contohnya,

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Keroncong Dalam Keroncong - Gita Seisoria - Blog Fisella


 


5. Teknik Acciacatura

Acciacatura adalah ornamen musik yang dilambangkan dengan notasi musik berukuran kecil bercoret garis miring disamping notasi pokok dan dimainkan hampir bersamaan dengan notasi pokok. Berikut ini contohnya,

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Keroncong Dalam Keroncong - Gita Seisoria - Blog Fisella






6. Trill

Trill merupakan nada yang dimainkan secara bergantian dengan nada terdekat di atasnya dan dimainkan dengan cepat. Ornamen ini dilambangkan dengan huruf “ tr. “ di atas notasi musik yang dimaksud. Berikut ini contohnya,

Uniknya Sebutan Ilmu Musik Keroncong Dalam Keroncong - Gita Seisoria - Blog Fisella

Sebagai informasi tambahan teknik permainan biola dalam musik keroncong juga masih tetap memerlukan teknik tangga nada yang stabil lho, berikut contoh cara melatihnya dan contoh lagu keroncong yang bisa kalian nikmati, semoga bermanfaat...


Video 1 : Teknik Permainan Biola Untuk Keroncong
Video 2 : Penampilan Keroncong Orkes Sinten Rimen - Geef Mij Maar Nasi Goreng

Rabu, 01 September 2021

Cara Cepat Mengulik Lead atau Rhythm Gitar dan Struktur Pembentuk Tabulature Gitar

Cara Cepat Mengulik Lead atau Rhythm Gitar dan Struktur Pembentuk Tabulature Gitar

Kita pasti sering mendengarkan lagu dan merasa terbawa dengan lead gitar baik itu pada intro, interlude, maupun outro atau juga sering merasa penasaran dengan petikan rhythm gitar yang nada-nadanya sangat sopan di telinga kita dan membuat rasa penasaran sehingga menimbulkan tanda tanya dalam diri kita; Bagaimana ia (gitaris) melakukan hal tersebut? Cara untuk mengulik permainan tersebut bagaimana? Dan lain-lain.

Senin, 30 Agustus 2021

Mengenal Foley: Sound Effect Pelengkap Film

 


Siapa disini yang hobinya menonton film? Ketika menonton suatu film, kita tidak hanya melihat gambarnya saja, tapi juga mendengar musik atau suara yang berjalan berdampingan bersama film tersebut. Film adalah sebuah dramatic content berupa audio visual, yang berarti penggabungan antara audio dan visual, sehingga menciptakan dramatic impact bagi penontonnya. Kehadiran audio sebagai pendamping visual sangat penting, karena audio berperan untuk menunjang pembawaan suasana sebuah visual, baik dalam film, iklan, acara televisi, atau pertunjukan yang lainnya. Audio dapat berupa dialog, musik, dan sound effect.

Dialog adalah audio yang bersumber dari percakapan pemain. Musik adalah audio yang bersumber dari alunan lagu, dapat berupa alunan musik pendek (sebagai penyambung antar adegan), atau bahkan musik tema (contohnya “The Avengers” karya Alan Silvestri yang menjadi musik tema film The Avengers). Untuk penjelasan peran musik dalam film sudah dijelaskan dalam artikel Perlu Tahu! Beginilah Cara Kerja Musik Film!, "High School Musical" Film Yang Berbicara Lewat Musik, dan Jika Musik Adalah Bahasa Universal, Bagaimana Dengan Musik Film?. Nah, yang terakhir adalah sound effect, audio efek suara yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya suara langkah kaki, pintu yang dibuka, angin, dan lain sebagainya. Sound effect diproduksi baik pada saat perekaman on set itu sendiri (disebut field recording), atau dengan perekaman terpisah secara khusus (disebut foley). Dalam artikel kali ini, saya akan membahas foley lebih dalam.


Apa itu Foley?

Seperti yang sudah disebutkan diatas, foley merupakan teknik pembuatan sound effect yang memproduksi suara-suara yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Suara langkah kaki, pintu yang dibuka, angin, petir, ombak, dan lain sebagainya dapat diproduksi menggunakan barang-barang disekitar kita. Seseorang yang terjun di bidang ini disebut foley artist. Foley pertama kali digunakan saat live broadcast radio pada tahun 1920-an. Istilah foley diambil dari nama Jack Foley, seorang foley artist yang menggunakan dan mengembangkan teknik foley ini.

Bagaimana Cara Kerja Foley?

Foley digunakan untuk menggantikan sound effect bawaan suatu hasil recording video (field recording) atau untuk mendobelnya sehingga hasil audio lebih baik. Perekaman foley dilakukan post-production, yakni setelah sebuah film selesai diproduksi. Biasanya, seorang foley artist akan menonton seluruh film terlebih dahulu, mencatat suara apa saja yang dibutuhkan, mencari barang-barang yang bisa memproduksi suara tersebut, kemudian melakukan perekaman foley sembari menonton filmnya, sehingga penempatan antara audio yang dihasilkan dan visual sinkron. Hasil rekaman foley akan diolah lebih lanjut menggunakan software, sehingga hasilnya lebih menunjang.

Beberapa suara mudah diproduksi karena cukup menggunakan barang aslinya, sebagai contoh suara gemerincing kunci bisa diproduksi menggunakan kunci asli. Tapi dalam beberapa kasus dibutuhkan perlakuan khusus, seperti untuk menirukan suara cakar anjing, kita menggunakan suara sarung tangan yang ditempel klip kertas, untuk menirukan suara angin, kita menggunakan suara kain yang ditebarkan, dan lain sebagainya.

Kenapa Foley Penting?

Alasan kenapa foley penting adalah sebagai berikut.

  • Foley membuat setiap scene terasa lebih nyata, karena memperhatikan dan memproduksi setiap kemungkinan suara yang muncul dengan sangat detail.
  • Foley menciptakan sound effect dan ambient sound yang lebih jelas. Terkadang, sound effect dan ambient sound bawaan suatu video tidak cukup menunjang karena tidak terekam dengan jelas.
  • Tanpa sound effect, film akan kurang berasa. Bayangkan kamu menonton suatu film tanpa sound effect, pasti terasa kosong, bukan?

Berikut video teknis perekaman foley.

Sekian informasi yang bisa saya sampaikan. Semoga bermanfaat ya teman-teman!


Referensi: masterclass.com

Foto: asoundeffect.com, studiobinder.com


Minggu, 29 Agustus 2021

Konteks Sosial-Budaya Untuk Pembelajaran Musik di Kelas

 

gambar

Mengajar musik di sebuah kelas bukanlah hal yang mudah, ditambah sulitnya menilai musik secara obyektif. Musik seringkali dinilai secara subjektif, berdasarkan selera pendengarnya. Seorang guru musik wajib mempunyai sebuah rubrik dan objektif yang jelas untuk melakukan asesmen pada murid. Objektif yang jelas akan membuat pembelajaran lebih rapi dan terarah. Selain menilai, akan lebih baik jika seorang guru bisa memahami musik para siswanya. Memahami musik pada siswa bukan berarti hanya mengetahu instrumen apa yang dapat siswa mainkan, namun memahami musik yang seperti apa yang berkembang dalam diri siswa. 

Konteks sosial-budaya dapat membantu seorang guru untuk memahami musik siswa. Konteks sosial-budaya dalam kelas merujuk pada norma-norma fisik dan sosial-budaya yang diamini oleh siswa, membentuk identitas siswa, dan membentuk fungsi dan arti musik bagi mereka. Konteks sosial-budaya ini selain dapat berupa norma, dapat juga berupa musik yang ada di lingkungan tumbuh siswa, dan musik yang sering siswa dengarkan. Faktor-faktor tersebut akan menentukan musik yang seperti apa yang berkembang pada siswa. Seorang anak yang tumbuh di lingkungan musik jazz, akan cenderung memiliki selera musik jazz. Bisa dibilang, musik jazz-lah yang berkembang dalam dirinya. Begitu juga seorang anak yang tumbuh di lingkungan musik tradisi, akan “memiliki” musik tradisi dalam dirinya. Untuk memahami hal ini, guru bisa memberikan kesempatan pada siswa untuk menjelajahi (explore) musik yang ada di lingkungannya sebelum menjadikannya sebuah tulisan. Tulisan tersebut yang akan membantu guru untuk mengetahu latar belakang musik siswanya. Selain itu, tugas semacam listening logs juga bisa membantu guru untuk memahami musik para siswanya. 

Karakter musik pada siswa biasanya akan terpengaruh oleh latar belakang musik mereka. Oleh karena itu, penting bagi seorang guru untuk memahami konteks sosial-budaya dalam menilai karya musik siswa. Akan lebih baik jika penilaian tidak berdasarkan bagus atau tidaknya karya tersebut, namun lebih kepada tercapai atau tidaknya target yang diberikan pada siswa. Sebagai contoh, bila seorang guru memberikan tugas songwriting pada siswa, maka penilaian terhadap karya bukan bagus atau tidaknya lagu ciptaan siswa melainkan apakah siswa mencapai target yang diberikan. Target ini dapat dijabarkan menjadi poin-poin atau ceklis, misalnya:

Siswa dapat menulis lirik lagu

Siswa dapat menentukan bentuk lagu

Siswa dapat membuat melodi dan progresi akor yang menunjang ide utama

Terdapat banyak hal yang perlu disiapkan dalam mengajar musik di kelas. Tujuan, standar, asesmen, bahkan definisi musik yang ingin diajarkan pada siswa. Namun jangan lupa, selain berbagai teori yang harus diajarkan, musik adalah bahasa  dan ekspresi manusia. 


Referensi: Teaching Popular Music in the Classroom Course (from Berklee Online by Coursera)

Sabtu, 28 Agustus 2021

Mengenal Sound Synthesis | Oscillator, Filter, dan ADSR

 

Memahami Sound Synthesis Dasar | Oscillator, Filter, dan ADSR

Siapa sih yang nggak tahu dengan synthesizer? Sebuah instrumen musik electrophone (Baca: Jenis Alat Musik Berdasarkan Sumber Bunyinya), dimainkan dengan cara ditekan seperti piano atau keyboard yang lahir di Era Modern dengan berbagai macam suara yang dapat dihasilkan. Kalau sudah tahu dengan instrumen ini, sebaiknya kita kenalan dengan yang namanya Sound Synthesis.

Jumat, 27 Agustus 2021

Mengenal Musik Jingle

Ciri musik jingle

Pada era sekarang, kalian pasti sering menjumpai iklan dimana mana. Biasanya, iklan atau komersil yang berbentuk video memakai jingle. Lalu apa itu jingle? Jingle adalah lagu atau nada pendek yang biasanya digunakan untuk mempromosikan sesuatu, seperti untuk iklan dan untuk penggunaan komersial lainnya. Jingle adalah bentuk branding suara. Lalu apa ciri ciri musik jingle?

Kamis, 26 Agustus 2021

Sudah Coba Suplemen Ini Belum?

 

Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella
            Picture by : Pixabay

Dalam memainkan musik membutuhkan kemampuan permainan yang tidak hanya sekedar indah didengar namun kemampuan mengontrol tubuh saat bermain musik. Karena teknik yang benar tentu akan diimbangi dengan permainan lagu yang baik pula. Meskipun pada kenyataannya masih ada beberapa pemain yang mengesampingkan suplemen ini dan memilih langsung memainkan sebuah repertoar atau karya lagu lainnya. Suplemen yang dimaksud disini diibaratkan sebagai vitamin atau pemanasan sebelum berolahraga untuk menjaga kestabilan tubuh seseorang dan menurut KBBI suplemen yang berarti melengkapi ini tidak hanya ada di makanan loh. Karena bermain musik juga melibatkan kerjasama tubuh yang diharapkan tidak mudah lelah saat berlatih atau mudah cedera pada bagian tubuh tertentu sehingga tubuh kalian pastinya akan lebih siap untuk berlatih, teman-teman.

Suplemen yang akan dibagikan disini lebih baik disarankan untuk para pemain biola pemula dengan catatan mampu membaca notasi musik dan sudah cukup stabil dalam memainkan tangga nada pada posisi satu serta stabil saat memegang instrumen biola itu sendiri. Tetapi, jangan khawatir bagi kalian yang masih awam sama sekali dengan notasi musik maupun instrumen biola, di akhir artikel ini akan dibagikan juga solusi lain yang bisa kalian coba kok...

Berikut ini beberapa Etude yang bisa kalian coba ;

1.     Franz Wohlfahrt ( 1833 – 1884 )

    Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog FisellaSudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella






















Etude ini dibuat oleh Wohlfahrt yang merupakan guru biola di Jerman tepatnya di Leipzig. Buku ini dicetak dalam dua edisi untuk tingkat elementary violin students. Etude ini memfokuskan teknik pada penjarian dan pergelangan tangan kiri. Kalian bisa mencoba memainkan nomor satu dari buku pertama Wohlfahrt yang memang memaksimalkan terlebih dahulu teknik pada penjarian posisi pertama. Tujuan dari etude ini antara lain menstabilkan pergelangan tangan kiri ( The Left Wrist Very Quiet ) dan menstabilkan penjarian posisi pertama supaya membiasakan jari tidak banyak ikut berpindah-pindah saat berlatih.

2.       Rodolphe Kreutzer ( 1766 – 1831 )
Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella                Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella

Etude ini dibuat oleh Kreutzer yang merupakan komposer penting di sekolah biola, Prancis. Beliau membuat beberapa violin concertos serta opera Prancis. Kalian bisa mencoba berlatih nomor tiga dari buku tersebut. Dalam etude ini kalian bisa mencoba berlatih dengan beberapa teknik bow atau tangan kanan seperti legato 2, legato 3, legato 4, dan legato-staccato meskipun dengan nada yang sama. Hal ini bisa membantu tangan kanan kalian lebih kontrol pada saat memainkan ritme yang asli serta cara ini dapat membantu kalian menghafal melodi dalam lagu tersebut dengan lebih mudah loh...

3.       Heinrich Ernst Kayser ( 1815 – 1888 )


Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella                                  Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella

Etude ini dibuat oleh seorang pemain biola sekaligus pendidik Jerman yang dibagi menjadi tiga buku progresif. Kalian bisa mencoba memainkan nomor satu atau dua dalam buku pertamanya yang berfokus pada penjarian tangan kiri. Dalam halaman tersebut dijelaskan bahwa diharapkan kita mampu menempatkan posisi jari tangan kiri dengan stabil. Terdapat tanda seperti “ ⧅ “ yang bermaksud agar jari kita sudah standby di senar tersebut sehingga waktu berpindah senar, nada dan jari sudah siap. Begitu pula dengan tanda seperti ¹ ⎼⎼  dimaksudkan agar jari satu atau telunjuk tetap ditahan selama satu sampai dua bar selama jari dua dan tiga memainkan bagiannya. Hal tersebut bertujuan serupa dengan etude Wohlfahrt yakni agar jari tidak terlalu banyak berpindah tempat dan stabil di posisi yang sesuai.

Berikutnya merupakan poin terakhir dari artikel ini, seperti yang sudah disampaikan di awal, bagi kalian yang masih cukup awam dengan notasi musik kalian bisa memulainya dengan membaca kumpulan repertoar dalam Suzuki Book Volume 1 (lihat gambar di bawah). Dengan kumpulan lagu yang terbilang familiar serta teknik yang cocok untuk bahan pembelajaran, buku ini sangat mudah didapatkan dan telah tersebar luas. Jadi, jangan takut mencoba ya, pasti kalian akan merasakan hasilnya nanti kok...

Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella                                 Sudah Coba Suplemen Ini Belum? - Gita Seisoria - Blog Fisella
Picture by :


Rabu, 25 Agustus 2021

Bisa Baca Partitur, Apa manfaatnya?

Sebuah catatan notasi yang berisikan karya musik atau yang sering disebut dengan Partitur, mungkin sudah tidak asing di telinga teman teman sekalian. Partitur umumnya ditulis menggunakan not angka dan not balok. Sampai sekarang ada bermacam-macam cara mencatat sebuah karya musik yaitu ada tabulasi, ada juga yang hanya menuliskan nama akord, dan beberapa lainnya.


Bagi teman-teman yang ingin memperdalam pengetahuan dan kemampuan bermain musik, membaca partitur adalah hal yang wajib dipelajari. Mengapa demikian? Atau apa manfaatnya?
Berikut adalah beberapa manfaat dari kemampuan membaca partitur yaitu :

Terapi Otak.
Membaca partitur, kita dilatih untuk melihat, memahami dan mengimplementasikan pada intrumen yang kita punya. Misalnya membaca dan mempraktekan pada gitar, apa yang tertera pada partitur. Secara tidak langsung, kegiatan tersebut dapat meningkatkan konsentrasi dan fokus otak kita.


Mempermudah memainkan sebuah lagu.
Saat kita sudah mahir membaca dan langsung mempraktekan apa yang dibaca, itu adalah kunci utama untuk kita dapat memainkan lagu-lagu baru dengan durasi dalam mempelajari lagu tersebut menjadi singkat.


Mempermudah komunikasi antar musisi saat bermain Bersama.
Bermain bersama atau yang sering disebut Ensembel, kita dipertemukan dengan lebih dari satu musisi. Partitur menjadi hal utama untuk menyelaraskan semua musisi yang terlibat, karena biasanya dalam partitur lengkap tercantum mulai dari judul, tempo, birama, timbre dll. Jadi cukup dengan partitur, hampir menyelesaikan sebuah garapan lagu dan hal-hal teknis selanjutnya adalah tergantung kesepakatan bersama dengan konduktor.


Mengasah insting dan naluri bermusik.
Naluri dan insting bermusik yang tajam, didapat dari hasil latihan yang sering dan proses latihan yang panjang. Dengan sering membaca partitur, dengan sendirinya akan menambah rasa, jiwa dan daya tangkap yang luas serta kepekaan kita terhadap nada atau musik.

Itulah beberapa manfaat dari membaca partitur yang dapat saya bagikan untuk teman teman, semangat terus dalam latihan dan jangan lupa diawali dengan doa.


Sumber Gambar : Photos.com