Estetika Musik dalam Perspektif Barat dan non-Barat - BLOG.FISELLA

Sabtu, 09 Oktober 2021

Estetika Musik dalam Perspektif Barat dan non-Barat

 

Artikel ini adalah sebuah ulasan terhadap webinar Musik, Seni, dan Estetika oleh Prof. Dr. Triyono Bramantyo, M.Ed. yang diselenggarakan oleh Program Studi Musik ISI Yogyakarta.

Sebagaimana telah kita ketahui bahwa estetika musik merupakan sebuah perspektif untuk memandang dan menilai musik, maka keberadaan estetika musik ini menjadi pembahasan para cendekiawan musik tak terkecuali musisi akademis ISI Yogyakarta, mulai dari level mahasiswa hingga pengajar. Karena estetika musik dianggap penting, maka mata kuliah Estetika Musik mencoba menghadirkan seseorang yang berkompeten untuk berbicara perihal ini. Beliau adalah Prof. Dr. Triyono Bramantyo, M.Ed., guru besar ISI Yogyakarta yang berlatarbelakang musik dan berkedudukan di Program Studi Pendidikan Musik ISI Yogyakarta. Pemikirannya sebagai musikolog akademis pastinya tidak perlu diragukan lagu, baik dalam ranah akademis maupun non-akademis.

Mahasiswa yang mengikuti mata kuliah Estetika Musik diminta untuk mengikuti webinar ini sebagai salah satu syarat menghadiri perkuliahan, namun tujuan esensialnya adalah untuk memperluas pandangan para mahasiswa dalam mengenal lebih dalam estetika musik dari sudut pandang Prof. Dr. Triyono Bramantyo, M.Ed. sebagai nara sumber. Tidak hanya itu, mahasiswa juga diminta untuk pro-aktif dan juga memberikan ulasan dalam bentuk tulisan terkait pembahasan pada webinar tersebut.

Langsung pada inti dari webinar, Prof. Dr. Triyono Bramantyo, M.Ed. mencoba memberikan garis besar pandangan estetika musik dari dua aspek utama yaitu akustik dan mekanik pada musik Barat dan musik tradisi (non-barat). Saya selaku peserta webinar seketika berpikir bahwa selama ini mahasiswa musik dan bahkan para pengajar musik sering sekali menilai estetika musik dari sudut pandang Barat, padahal kita sendiri berpijak pada bangsa yang budaya dan kegiatannya cenderung lebih dekat dengan tradisi. Disinilah pembicaraan tentang pandangan estetika musik Barat dan non-Barat disampaikan dengan pernyataan bahwa keduanya memiliki perspektif yang kontras. Prof. Dr. Triyono Bramantyo, M.Ed. menjelaskan bahwa estetika musik Barat memegang teguh pada prinsip logika dimana keindahan benar-benar terukur dan dapat dikalkulasikan secara akurat untuk mendapatkan kualitas menurut budaya mereka contohnya orksetra dengan instrumen yang frekuensinya beragam atau ruang konser akustik dengan penuh perhitungan matematis sesuai prinsip akustik, namun budaya non-Barat (dicontohkan dalam gamelan) keindahan musik tidak terukur pada logika saja namun estetika musik memuat pesan-pesan filosofis kehidupan dan transenden.

Untuk mempersingkat dua pandangan kontras ini Prof. Dr. Triyono Bramantyo, M.Ed. menyatakan bahwa dalam estetika musik pada aspek akustik musik Barat selalu berkaitan dengan fisik (Fisika) sedangkan estetika musik non-Barat berkaitan dengan perihal meta fisik (Meta Fisika). Bagi saya baik fisika atau meta fisika merupakan ilmu pengetahuan yang sama-sama penting, terbukti bahwa ilmuwan-ilmuwan modern mulai bosan dengan teori fisika (konvensional) sehingga muncul ketertarikan untuk meneliti sesuatu yang bersifat metafisik seperti ilmu fisika quantum yang kerap kali menimbulkan anomali jika dibandingkan dengan teori pada fisika konvensional yang kasat mata.

Pada aspek mekanik terdapat sebuah konsep trikotomi baik dalam estetika musik Barat maupun non-Barat. Prof. Dr. Triyono Bramantyo, M.Ed. menjelaskan bahwa trikotomi musik barat terbagi atas Index, Icon, dan symbol. Jika ditelusuri lebih dalam, konsep ini sebenarnya adalah teori dari Charles Sanders Peirce seorang Filsuf dan Matematikawan ternama, yang berarti bahwa musik di Barat telah menemukan titik kepastiannya dan dapat dinilai secara rasional melalui logika manusia. Sedangkan konsep trikotomi dalam musik non-Barat (dicontohkan dalam Gamelan) adalah urip, diuripi, sing gawe urip (hidup, diberi hidup, dan yang membuat hidup). Saya menilai konsep trikotomi dalam musik non-barat (tradisi musik gamelan) merupakan sebuah pandangan filosofis kehidupan masyarakat etnis tertentu di Indonesia dengan pendekatan transendental yang mungkin melampaui batas logika.


Bagikan artikel ini

Silakan tulis komentar Anda